The Wanderer's Hope: Dokumenter Sinematik tentang Sakola Kembara
Dokumenter pendek tentang Sakola Kembara, bimbingan belajar gratis yang mengantar anak-anak desa dari keluarga prasejahtera masuk perguruan tinggi negeri. Dibuat oleh tim yang berasal dari kecamatan yang sama dengan tempat gerakan ini lahir: Cililin, Bandung Barat.
- Dokumenter sinematik
- 400+ siswa terbantu
- Dari Cililin ke 8 cabang
- Klien / subjek
- Yayasan Sakola Kembara Indonesia, organisasi nirlaba pendidikan berbasis Bandung
- Jenis
- Dokumenter sinematik pendek / video profil organisasi
- Durasi
- 15 menit
- Tahun produksi
- 2026
- Lokasi
- Cililin dan Bandung, Jawa Barat
- Layanan
- Riset, penulisan, produksi, pascaproduksi
- Penggunaan
- Penggalangan dana dan presentasi ke mitra
Ringkasan proyek
Sakola Kembara berdiri pada 2021 ketika Rommi Adany, mahasiswa ITB, bertemu siswa-siswi SMA dari keluarga miskin di pelosok Bandung Barat yang tidak tahu bahwa kuliah adalah pilihan. Cita-cita tertinggi mereka menjadi kasir supermarket, dan sebagian guru melarang mereka bermimpi kuliah karena dianggap tidak realistis. Dari 16 siswa pertama di Cililin, program ini berkembang menjadi 8 cabang di 3 provinsi, telah mendampingi lebih dari 400 siswa, dengan 50–70% di antaranya lolos ke perguruan tinggi negeri. Pada 18 Oktober 2025, Sakola Kembara resmi menjadi yayasan.
Tantangan dokumenter ini adalah menerjemahkan angka-angka itu menjadi sesuatu yang bisa dirasakan: apa artinya bagi seorang anak desa ketika pintu kuliah ternyata terbuka. Film juga harus berguna untuk organisasi: cukup singkat untuk ditonton calon donatur dan mitra, cukup sinematik untuk menunjukkan bahwa gerakan ini serius.
Judulnya, The Wanderer's Hope, diambil dari arti nama organisasi: "sakola" berarti sekolah dalam bahasa Sunda, dan "kembara" berarti pergi mengembara. Film ini mengikuti harapan anak-anak yang berani keluar dari kampung halaman demi pendidikan.
Alih-alih merangkum program secara umum, kami mengikuti perjalanan siswa dan pengajar: ruang kelas sederhana di akhir pekan, perjalanan dari desa ke lokasi belajar, dan momen ketika pengumuman kelulusan PTN dibuka. Wawancara dipakai sebagai benang cerita, bukan sebagai narasi utama, supaya penonton melihat sendiri, bukan diberi tahu.
Secara visual, kami memperlakukan Cililin dan desa-desa sekitarnya sebagai karakter, dengan sinematografi yang hangat dan tenang, bukan sebagai objek liputan.
Proyek ini terasa dekat bagi tim karena Simpul Project dan Sakola Kembara sama-sama berangkat dari Cililin. Renaldy Agung Pratama juga mengenal gerakan ini dari dalam sebagai relawan pemasaran Sakola Kembara.
Sebelum kamera menyala, tim menghabiskan sekitar dua minggu ikut hadir di kelas akhir pekan supaya siswa dan pengajar terbiasa dengan kehadiran kami. Syuting berlangsung empat hari di Cililin dan Bandung: kelas belajar, rumah siswa, perjalanan dari desa, dan wawancara dengan pengajar serta alumni yang kini kuliah di perguruan tinggi negeri.
- Dokumenter sinematik pendek yang menjadi materi utama Sakola Kembara untuk memperkenalkan gerakannya kepada publik dan mitra
- Menjadi bagian dari portofolio dokumenter dan video profil Simpul Project bersama Hari Disaat Sampah Mengubur Segalanya, pemenang kompetisi #KaryaUntukLingkungan Golkar Institute
- Dipakai dalam kegiatan penggalangan dana dan presentasi Sakola Kembara kepada calon mitra dan donatur
- Sutradara
- Renaldy Agung Pratama
- Director of Photography
- Mochamad Ramdhan
- Produser
- Rommi Adany
Punya misi yang perlu dilihat lebih banyak orang?
Kami memproduksi dokumenter dan video profil untuk lembaga, komunitas, dan organisasi yang ingin menyampaikan pesan penting secara jujur dan menyentuh.
