23 Juli 2026

The Wailing (2016): Misteri Ending, Relasi Dukun dan Iblis, serta Fakta di Baliknya

FilmHororFilm KoreaAnalisis FilmProduksi
Mudang (dukun Korea) melakukan ritual gut

The Wailing (Goksung) adalah film horor misteri Korea Selatan garapan sutradara Na Hong-jin, dirilis tahun 2016. Film ini menahan jawaban sampai adegan terakhir, membiarkan penonton menerka sendiri apa yang sebenarnya terjadi di desa Goksung.

Filmnya memadukan perdukunan Korea, kepercayaan rakyat, dan simbol-simbol Kristen jadi satu cerita yang berlapis. The Wailing tayang di Festival Film Cannes 2016 di luar kompetisi, dan sejak itu rutin disebut sebagai salah satu horor Korea paling berpengaruh dekade ini.

mudang (dukun Korea) melakukan ritual gut, sebagai ilustrasi tema perdukunan dalam film.
ReSearcher via Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0) — mudang (dukun Korea) melakukan ritual gut, sebagai ilustrasi tema perdukunan dalam film.

Peringatan: Artikel ini mengandung spoiler.
Tangkapan Gambar The Wailing (2016)
Tangkapan Gambar The Wailing (2016)

Cerita berpusat pada Jong-goo, seorang polisi di desa Goksung yang menyelidiki serangkaian pembunuhan misterius. Semua korban mengalami perubahan perilaku sebelum akhirnya membunuh anggota keluarganya sendiri.

Warga desa mulai mengaitkan semua kejadian itu dengan seorang pria Jepang yang tinggal sendirian di pegunungan. Situasi semakin mencekam ketika putri Jong-goo, Hyo-jin, mulai menunjukkan gejala kerasukan.

Demi menyelamatkan anaknya, Jong-goo memanggil seorang dukun terkenal bernama Il-gwang. Namun, keputusan tersebut justru menjadi awal dari tragedi yang lebih besar.

Peringatan: Artikel ini mengandung spoiler.

Sepanjang film, identitas pria Jepang sengaja dibuat ambigu. Penonton diarahkan untuk terus meragukan apakah ia benar-benar manusia biasa atau dalang di balik seluruh kutukan.

Menjelang akhir film, terungkap bahwa pria Jepang adalah manifestasi iblis yang menyebarkan kutukan ke seluruh desa. Ia memanfaatkan rasa takut dan keraguan manusia supaya para korbannya saling menghancurkan sendiri.

Twist terbesar The Wailing baru terungkap belakangan: hubungan dukun Il-gwang dengan pria Jepang itu sendiri.

Pada awal cerita, Il-gwang tampak seperti penyelamat yang berusaha mengusir roh jahat dari tubuh Hyo-jin. Tapi mendekati ending, beberapa adegan membalikkan kesan itu — Il-gwang lebih terlihat bekerja untuk kepentingan iblis, bukan melawannya.

Beberapa adegan yang mendukung dugaan itu:

  • Il-gwang tidak menunjukkan rasa takut saat bertemu pria Jepang.
  • Ia langsung kabur begitu identitas iblis mulai terbongkar.
  • Di akhir film, ia terlihat bersama pria Jepang seolah rencana mereka sudah selesai.
  • Ritualnya malah memperburuk kondisi Hyo-jin, bukan menyembuhkannya.

Karena itu, Il-gwang lebih masuk akal dibaca sebagai kaki tangan iblis yang sengaja menyesatkan keluarga Jong-goo, bukan korban yang berusaha menolong.

cuplikan Hwang Jung Min di film The Wailing (dok. 20th Century Fox Korea/The Wailing)
cuplikan Hwang Jung Min di film The Wailing (dok. 20th Century Fox Korea/The Wailing)

Melalui teknik penyuntingan (cross-cutting), adegan ritual Il-gwang ditampilkan bersamaan dengan penderitaan pria Jepang. Hal ini membuat penonton percaya bahwa keduanya sedang bertarung.

Tapi begitu misterinya terungkap, adegan itu berbalik makna: ritual Il-gwang tidak mengusir apa pun, malah mempercepat kutukan yang menyerang Hyo-jin.

misteri wanita berbaju putih di film the wailing
Wanita berbaju putih, Moo-myeong

Wanita berbaju putih, atau Moo-myeong, adalah karakter paling sulit dibaca di sepanjang film.

Awalnya ia tampak mencurigakan, tapi arah ceritanya justru menunjukkan ia berusaha melindungi keluarga Jong-goo dari kutukan.

Ia bahkan memperingatkan Jong-goo agar tidak memasuki rumah sebelum waktunya. Sayangnya, Jong-goo lebih memilih mempercayai Il-gwang sehingga peringatan tersebut diabaikan. Keputusan itulah yang akhirnya membawa tragedi bagi keluarganya.

Di balik cerita iblis dan kerasukan, The Wailing sebenarnya bicara soal bagaimana kejahatan bekerja: bukan lewat serangan langsung, tapi lewat rasa takut, kepanikan, dan kebingungan yang membuat orang mengambil keputusan yang salah.

Jong-goo sebenarnya memiliki kesempatan menyelamatkan keluarganya. Namun karena gagal membedakan siapa yang benar-benar dapat dipercaya, ia justru menjadi bagian dari rencana iblis.

1. Menggabungkan Banyak Kepercayaan

Film ini memadukan unsur shamanisme Korea, folklor lokal, dan simbol-simbol Kristen dalam satu cerita.

2. Tidak Ada Penjelasan yang Benar-Benar Mutlak

Sutradara Na Hong-jin sengaja membiarkan beberapa misteri tetap terbuka sehingga penonton bebas menafsirkan berbagai adegan.

3. Detail Kecil Menjadi Petunjuk Besar

Banyak petunjuk penting baru terlihat saat menonton ulang, mulai dari ekspresi para karakter hingga benda-benda yang muncul di latar belakang.

4. Tayang di Cannes

The Wailing diputar di Festival Film Cannes 2016 di luar kompetisi, sesuatu yang jarang didapat film horor Asia. Ini salah satu alasan reputasinya terus bertahan di kalangan penggemar horor Korea.

The Wailing pada akhirnya bercerita tentang bagaimana rasa takut membuat orang kehilangan kemampuan membedakan kebenaran dari kebohongan — iblis dan kerasukan cuma alat untuk sampai ke situ.

Hubungan Il-gwang dengan pria Jepang adalah twist utamanya. Wanita berbaju putih sendiri sebenarnya berusaha menghentikan kutukan itu — usahanya gagal karena Jong-goo keliru memilih siapa yang mau dipercaya.

The Wailing memang lebih enak ditonton dua kali — baru di tontonan kedua, detail-detail kecil yang terlewat pertama kali jadi masuk akal.

Apakah pria Jepang di The Wailing benar-benar iblis?

Ya. Ending film memberikan petunjuk kuat bahwa pria Jepang adalah manifestasi iblis yang menjadi sumber kutukan di desa.

Apakah dukun Il-gwang bekerja sama dengan iblis?

Beberapa adegan di akhir film, terutama caranya melarikan diri begitu identitas iblis terbongkar, mengarah ke kesimpulan bahwa Il-gwang adalah kaki tangan iblis yang sengaja menyesatkan Jong-goo.

Siapa wanita berbaju putih?

Wanita berbaju putih (Moo-myeong) adalah sosok yang berusaha melindungi keluarga Jong-goo dan menghentikan kutukan, meski peringatannya diabaikan Jong-goo.

Mengapa ending The Wailing membingungkan?

Sutradara sengaja menggunakan teknik penyuntingan dan narasi ambigu agar penonton ikut merasakan kebingungan yang dialami tokoh utama.

Apakah The Wailing layak ditonton?

Ya, terutama buat yang suka horor dengan plot twist dan simbol-simbol yang baru masuk akal setelah ditonton ulang.

Skor Review

Cerita
0/5
Akting
0/5
Sinematografi
0/5
Directing
0/5
Nilai Akhir 0/10

← Semua artikel · Beranda