10 Film Mirip Evil Dead Burn yang Wajib Ditonton Pecinta Horor Brutal
Kalau Anda suka horor yang liar, berdarah, dan terasa seperti tekanan yang tidak pernah turun sampai film selesai, daftar di bawah ini cocok untuk Anda. Sengaja tidak dimasukkan film dari franchise Evil Dead sendiri. Yang dicari di sini adalah film lain dengan intensitas serupa: possession, body horror, ruang yang membuat sesak, dan rasa panik yang terus menumpuk sampai titik yang hampir tidak masuk akal.
Bukan sekadar "seram". Yang membuat Evil Dead terasa berbeda dari horor kebanyakan adalah kombinasi antara teror yang naik cepat, karakter yang terjebak di situasi mustahil untuk kabur, dan ancaman yang datang dari sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan, entah itu kutukan, ritual, atau makhluk dari dunia lain. Sepuluh film di bawah ini punya salah satu atau beberapa elemen itu, kadang dengan cara yang jauh lebih pelan dan psikologis, kadang dengan cara yang sama liarnya.
1. Drag Me to Hell (2009)

Ini mungkin pilihan paling dekat secara "keluarga", karena disutradarai Sam Raimi, orang yang sama yang membuat Evil Dead pertama. Christine Brown, seorang petugas kredit di bank, menolak perpanjangan pinjaman seorang nenek bernama Sylvia Ganush. Nenek itu ternyata bukan orang sembarangan, dan Christine dikutuk oleh iblis Lamia yang akan menyeretnya ke neraka dalam tiga hari.
Dari titik itu, filmnya jadi permainan kucing-kucingan dengan teror yang absurd: adegan sesi pemanggilan roh dengan kambing yang bisa bicara, cairan pembalseman yang menyembur ke wajah, sampai klimaks yang melibatkan kancing baju dan amplop. Raimi jelas membawa DNA yang sama dengan Evil Dead, campuran horor kencang dengan humor gelap yang tidak pernah terasa main-main.
2. The Autopsy of Jane Doe (2016)

Tommy Tilden dan anaknya, Austin, menjalankan rumah duka kecil di kota kecil. Suatu malam mereka menerima jasad seorang perempuan tak dikenal yang ditemukan terkubur di rumah tempat sepasang suami istri dibunuh, padahal tidak ada tanda pembobolan sama sekali. Semakin dalam mereka membedah tubuh itu, semakin aneh temuannya: organ dalam rusak parah tapi kulit luar mulus tanpa luka.
Film ini nyaris seluruhnya berlangsung di satu ruang bawah tanah, dan justru dari situ ketegangannya terasa menekan terus tanpa jeda. Twist di baliknya berhubungan dengan kutukan tua yang mengingatkan pada cerita perburuan penyihir, dan itu yang membuatnya terasa dekat dengan nuansa supranatural ala Evil Dead.
3. The Descent (2005)

Sarah baru saja kehilangan suami dan anaknya dalam kecelakaan mobil ketika ia diajak teman-temannya melakukan ekspedisi menyusuri gua yang belum pernah dipetakan. Niatnya healing, tapi jalur yang mereka ambil ternyata jalan buntu, dan mereka terjebak jauh di dalam sistem gua yang gelap total. Baru di titik itu penonton sadar mereka tidak sendirian di bawah sana.
Neil Marshall membangun rasa sesak fisik yang sangat nyata lewat lorong sempit dan pencahayaan minim, sebelum akhirnya melepas Crawlers, makhluk buta yang berburu lewat suara. Versi rilis Inggris punya akhir yang jauh lebih kelam dibanding versi Amerika, dan versi itu layak dipilih kalau Anda ingin rasa putus asa yang lebih penuh.
4. REC (2007)

Angela Vidal, reporter televisi, sedang meliput rutinitas malam petugas pemadam kebakaran ketika mereka dipanggil ke sebuah apartemen di Barcelona karena ada wanita tua yang berteriak. Begitu pintu gedung terkunci dari luar oleh otoritas kesehatan, semua yang di dalam terjebak bersama sesuatu yang menyebar seperti wabah tapi berperilaku seperti kesurupan.
Format found footage membuat setiap goncangan kamera terasa seperti kejadian nyata, dan semakin mendekati loteng gedung, filmnya berubah jadi salah satu horor paling mencekik yang pernah dibuat, dengan penjelasan akhir yang ternyata berakar pada eksperimen keagamaan, bukan sekadar virus biasa.
5. The Blair Witch Project (1999)

Tiga mahasiswa film, Heather, Josh, dan Mike, masuk ke hutan dekat kota kecil Burkittsville untuk membuat dokumenter tentang legenda Blair Witch. Mereka tersesat, kompas dan peta jadi tidak berguna, dan malam demi malam mereka mendengar suara-suara di sekitar tenda yang tidak bisa dijelaskan.
Film ini terkenal karena dipasarkan sebagai rekaman asli yang ditemukan, sebuah trik pemasaran yang di masanya benar-benar membuat orang percaya kejadian itu nyata. Ketakutannya dibangun bukan dari monster yang terlihat, tapi dari rasa kehilangan arah dan paranoia yang perlahan mengambil alih kelompok itu, sampai ke bidikan kamera terakhir di sudut ruangan bawah tanah yang jadi salah satu penutup horor paling ikonik.
6. The Thing (1982)

Sekelompok peneliti Amerika di stasiun terpencil Antartika menemukan bahwa makhluk asing yang mereka bawa masuk bisa meniru bentuk tubuh siapa pun yang ia infeksi, sempurna sampai ke ingatan dan kepribadian. MacReady, diperankan Kurt Russell, harus mencari tahu siapa di antara timnya yang masih manusia sebelum semua orang saling bunuh karena curiga.
Efek praktikal karya Rob Bottin, termasuk adegan dada yang terbelah jadi mulut bergigi, masih terlihat mengerikan empat dekade kemudian tanpa bantuan CGI sama sekali. John Carpenter menutup film ini dengan akhir yang sengaja dibiarkan ambigu, dan justru itu yang membuat rasa paranoianya menempel lama setelah film selesai.
7. Talk to Me (2022)

Mia, remaja yang masih berduka atas kematian ibunya, ikut nongkrong bersama teman-temannya yang menemukan tren baru: memanggil arwah lewat tangan yang sudah diawetkan, lalu membiarkan diri dirasuki selama tepat sembilan puluh detik sebagai permainan yang direkam untuk media sosial. Aturan itu dilanggar, dan yang masuk lewat tangan itu ternyata tidak berniat pergi begitu saja.
Disutradarai kembar Danny dan Michael Philippou dari Australia, film ini terasa sangat 2020-an dalam cara mereka menggambarkan kesurupan sebagai konten viral, tapi begitu ceritanya berbelok ke arah pribadi Mia, ketegangannya berubah jadi sesuatu yang jauh lebih menyakitkan dan sulit ditebak arahnya.
8. Hereditary (2018)

Setelah kematian sang nenek, keluarga Graham perlahan menyadari bahwa duka mereka bukan satu-satunya beban yang mereka warisi. Annie, sang ibu yang bekerja sebagai seniman miniatur, mulai menemukan pola-pola aneh yang menghubungkan keluarganya dengan sebuah kelompok pemuja setan, dan tragedi demi tragedi datang tanpa memberi ruang untuk bernapas, termasuk satu adegan kematian yang sampai sekarang masih dibicarakan orang karena caranya difilmkan begitu dingin.
Ari Aster membangun rasa ngeri secara perlahan lewat drama keluarga sebelum akhirnya menghantam penonton dengan teror ritual yang jauh lebih keras di babak akhir. Ini horor yang membekas justru karena kesedihannya terasa nyata sebelum sisi supranaturalnya meledak.
9. Saint Maud (2019)

Maud, perawat pribadi yang baru saja pindah keyakinan menjadi sangat religius setelah insiden traumatis di pekerjaan lamanya, mendapat tugas merawat Amanda, mantan penari yang sedang sekarat karena kanker. Maud yakin tugasnya bukan sekadar merawat tubuh Amanda, tapi menyelamatkan jiwanya, dan keyakinan itu perlahan berubah jadi obsesi yang sulit dibedakan antara panggilan suci atau gejala gangguan jiwa.
Rose Glass menyutradarai ini dengan gaya yang jauh lebih pelan dan psikologis dibanding kebanyakan film di daftar ini, tapi ketegangan spiritualnya, terutama menjelang adegan penutup, membuatnya pantas disandingkan dengan horor yang lebih fisik dan brutal.
10. Impetigore (Perempuan Tanah Jahanam) (2019)

Maya, yang nama aslinya ternyata Rahayu, kembali ke desa asal keluarganya bersama sahabatnya Dini untuk mengklaim rumah warisan yang bisa menyelesaikan masalah keuangan mereka. Begitu sampai di desa Harjosari, mereka disambut dengan kecurigaan warga dan rangkaian kejadian yang mengarah ke sebuah kutukan: setiap bayi yang lahir di desa itu lahir tanpa kulit, dan sang dalang desa percaya hanya darah keluarga Maya yang bisa mengangkat kutukan tersebut.
Joko Anwar membangun atmosfer desa terpencil dengan pertunjukan wayang yang terasa mengancam, dan kekerasannya, ketika akhirnya meledak, tidak kalah brutal dari film-film Barat di daftar ini. Kalau Anda ingin horor lokal dengan rasa yang sama gelapnya, ini titik awal yang tepat.
Kalau harus memilih urutan tontonan, mulailah dari Drag Me to Hell, lanjut ke Talk to Me, lalu The Descent, dan ditutup dengan The Autopsy of Jane Doe. Empat film ini punya kombinasi yang paling mendekati: teror yang cepat berubah jadi kacau, ruang yang membuat sesak, dan possession atau kutukan sebagai mesin utama cerita.
Mau Produksi Film Sendiri Seperti Ini?
Simpul Project Production House membantu mewujudkan ide Anda jadi film, mulai dari horor, komedi, drama, sampai dokumenter - dari konsep, penulisan naskah, produksi, hingga pascaproduksi.
Hubungi Simpul ProjectSemua film di atas datang dari franchise yang berbeda-beda, tapi semuanya menyentuh hal yang sama yang membuat penonton horor brutal betah: gore yang tidak ditahan-tahan, kesurupan, ruang sempit yang tidak punya jalan keluar, kutukan yang tidak bisa dinegosiasikan, dan rasa panik yang terus naik sampai akhir. Kalau salah satu dari ini sudah pernah ditonton, ada baiknya coba yang belum, karena masing-masing punya cara sendiri untuk membuat malam Anda sedikit lebih sulit tidur.
Film apa yang paling mirip Evil Dead Burn?
Drag Me to Hell (2009) paling dekat secara "keluarga" karena disutradarai Sam Raimi, pencipta Evil Dead. Selain itu, Talk to Me, The Descent, dan The Autopsy of Jane Doe juga sangat dekat dari sisi teror yang cepat berubah jadi kacau dan ruang yang membuat sesak.
Apakah ada horor lokal Indonesia yang mirip Evil Dead Burn?
Ada, Impetigore (Perempuan Tanah Jahanam) karya Joko Anwar. Filmnya membangun atmosfer desa terpencil dan kutukan turun-temurun dengan kekerasan yang tidak kalah brutal dari film-film Barat di daftar ini.
Kenapa film-film ini dianggap mirip Evil Dead Burn meski beda cerita?
Karena kombinasi tekanan yang tidak pernah turun, karakter yang terjebak di situasi mustahil untuk kabur, dan ancaman yang tidak bisa dinegosiasikan, entah lewat possession, kutukan, atau makhluk dari dunia lain, gore yang tidak ditahan-tahan, dan ruang sempit tanpa jalan keluar.